Analis: Momentum Tepat Rilis Obligasi - Peringkat Utang Indonesia Naik

NERACA

Jakarta - Analis pasar modal menilai bahwa sentimen dari kenaikan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service (Moody’s) dapat dijadikan momentum bagi perusahaan menerbitkan surat utang atau obligasi.”Kenaikan peringkat utang Indonesia dapat dijadikan momentum bagi korporasi untuk meraih dana di pasar modal melalui penerbitan obligasi," kata analis Binaartha Sekuritas, M Nafan Aji di Jakarta, Rabu (18/4).

Menurut dia, dengan naiknya peringkat utang itu, maka premi risiko akan turun sehingga perusahaan nasional bisa menebitkan surat utang dengan kupon yang lebih rendah dari sebelumnya.”Biaya dana penerbitan obligasi menjadi relatif rendah, sehingga penerbitan dapat menjadi opsi dalam meraih dana di pasar modal," ujarnya.

Di sisi lain, lanjut dia, kenaikan peringkat juga dapat memicu aliran dana investor asing masuk ke pasar keuangan dalam negeri lebih banyak sehingga terbuka penyerapan terhadap obligasi menjadi lebih baik. Sebagai informasi, pada 13 April 2018, lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service (Moody”s) meningkatkan Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia dari Baa3/Outlook Positif menjadi Baa2/Outlook Stabil.

Kendati demikian, M Nafan Aji mengatakan bahwa beberapa risiko, terutama dari eskternal harus tetap diwaspadai bagi investor untuk menempatkan dananya dalam obligasi. Sentimen kenaikan suku bunga The Fed dapat mempengaruhi pasar obigasi di dalam negeri. Sementara itu, Vice President Research Artha Sekuritas, Frederik Rasali menambahkan, proses penerbitan obligasi yang relatif membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan perbankan dapat menjadi salah satu faktor yang menahan perusahaan untuk meraih pendanaan melalui obligasi.”Diharapkan, proses penerbitan obligasi dapat lebih sederhana dan cepat," tuturnya.

Selain itu, lanjut dia, perusahaan dengan peringkat layak investasi juga relatif masih terbatas sehingga investor juga cukup selektif untuk menempatkan dananya ke dalam obligasi korporasi.

BERITA TERKAIT

Harga Premium Tidak Naik untuk Jaga Daya Beli dan Inflasi

NERACA Jakarta -- Presiden Jokowi menegaskan,  harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium tidak mengalami kenaikan. Pasalnya, presiden khawatir kenaikan harga…

IMF: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Naik 1% - PERANG DAGANG AS-CHINA BAKAL PANGKAS EKONOMI GLOBAL 1%

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat sekitar 1% dalam jangka menengah, dari posisi saat…

IMF : Menguntungkan atau Merugikan Indonesia?

  Oleh: Jasmin Erika, Peneliti LSISI Saat ini, Indonesia tengah menjadi tuan rumah bagi penyelanggaran Annual Meetings of the International…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Bersama WIKA dan Summarecon - MUN Ikut Konsorsium Tol Dalam Kota Bandung

NERACA Jakarta - PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) lewat anak usahanya PT Margautama Nusantara (MUN) bersama PT Wijaya Karya (Persero)…

Pendapatan Bali Towerindo Tumbuh 42%

NERACA Jakarta - Di kuartal tiga 2018, PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) membukukan kenaikan pendapatan usaha 42% menjadi Rp…

Pefindo Beri Peringkat AA- Chandra Asri

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan rating untuk PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) pada idAA-. Outlook rating TPIA stable. Rating…