Menilik Pasar Modal di Indonesia

Neraca. Investasi saham di pasar modal terbilang cukup unik. Meskipun secara alami investasi ini bersifat jangka panjang, namun investor bisa melakukan transaksi setiap hari, setiap jam, bahkan setiap saat. Investor bisa berselancar dari satu jenis saham ke jenis saham yang lain. Bagi investor yang piawai dalam membaca arah pergerakan harga saham, bisa dipastikan ia akan meraih keuntungan yang berlipat.

Sifat saham yang likuid dan bisa diperdagangkan setiap hari itu mendorong munculnya banyak investor harian, yaitu investor yang setiap hari menghabiskan sepanjang waktunya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mereka memonitor aktivitas jual beli, perubahan harga saham yang terjadi secara teknis, dan – jika ada peluang meraih gain – tidak ragu untuk mengeksekusi transaksi beli dan jual.

Untuk menjadi investor harian yang aktif melakukan daily trading, dibutuhkan sedikit bekal pengetahuan agar terhindar dari kerugian karena salah perhitungan. Hal sederhana yang wajib diketahui adalah besaran biaya transaksi (trading fee) yang dibebankan oleh perusahaan broker dan fraksi harga yang berlaku pada saham yang ditransaksikan.

Mengapa dua hal sederhana itu begitu penting untuk diketahui? Dalam praktiknya, banyak sekali investor - bahkan tidak terbatas pada investor ritel atau individu - yang melakukan transaksi secara cepat: membeli saham dan segera menjualnya kembali meskipun hanya mendapatkan keuntungan sebesar satu poin. Asalkan tidak merugi, saham yang baru dibeli kemudian dijualnya kembali pada hari itu juga, tanpa perlu menunggu lama. Dulu, ketika fraksi tunggal Rp 25 masih berlaku, pola transaksi seperti ini dijuluki sebagai strategi jibur alias jigo kabur. Artinya, untung jigo (satu poin) saja sudah cukup untuk membuat investor menjual kembali saham yang baru saja ia beli.

Bagi investor aktif yang bertransaksi secara harian, satu poin memang cukup berarti. Memang, tidak semua saham yang mengalami kenaikan satu poin dapat menghasilkan keuntungan. Ada saham-saham berharga tinggi yang membutuhkan kenaikan lebih dari satu poin untuk bisa mengail untung. Namun, fakta di pasar menunjukkan bahwa banyak sekali saham yang hanya dengan kenaikan satu poin sudah dapat memberikan keuntungan kepada investor.

Untuk bisa memastikan keuntungan dari kenaikan satu poin tersebut, investor harus menghitung fee transaksi - baik beli maupun jual. Saat ini, umumnya besaran fee yang dipungut oleh broker adalah sebesar 0,25% untuk transaksi beli dan sebesar 0,35% untuk transaksi jual (sudah termasuk pajak). Nah, jika investor melakukan transaksi beli maupun jual, berarti total fee yang harus dibayar investor adalah 0,6%. Angka inilah yang harus dijadikan pegangan apakah kenaikan satu poin tadi sudah memberikan keuntungan atau tidak.

Dengan sistem multi fraksi yang berlaku saat ini, investor bisa melakukan simulasi transaksi: pada harga berapa sebuah saham bisa memberikan gain dengan kenaikan hanya sebesar satu poin. Sebagai ilustrasi, untuk saham yang harganya di bawah Rp200, berlaku fraksi sebesar Rp1. Artinya, satu poin sama dengan kenaikan atau penurunan harga saham sebesar Rp1. Jika investor membeli saham dengan harga Rp190 dan menjualnya dengan harga Rp191, maka meskipun tampak untung, tapi sebenarnya investor masih menderita kerugian karena keuntungan yang didapat habis untuk membayar fee transaksi.

Investor bisa melakukan kalkulasi untuk setiap saham yang dibelinya. Yang jelas, dari dua contoh di atas, tampak bahwa kenaikan satu poin cukup berarti bagi investor. Jika investor ingin bertransaksi dengan cepat, maka kenaikan yang hanya satu poin sudah bisa memberikan gain. Namun, harus diperhatikan pula bahwa penurunan satu poin pun ternyata juga dapat menghasilkan rugi. Apakah investor mendapatkan untung atau malah merugi, semua tergantung dari kalkulasi yang dilakukan oleh investor. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam melakukan transaksi satu poin. (yuan)

BERITA TERKAIT

Saran Buat PD Pasar Jaya Klender

Di kawasan sekitar Pasar Perumnas Klender, Jakarta Timur kondisinya sangat semrawut karena banyak angkot yang tidak menaikkan penumpangnya di terminal…

Pasar IPO Tahun Depan Penuh Tantangan - Dihantui Pengetatan Likuiditas

NERACA Jakarta – Mendorong pertumbuhan kapitalisasi di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengandalkan pertumbuhan jumlah emiten di…

Pasar Tekstil Tanah Abang Melesu

  NERACA   Jakarta - Penjualan tekstil di Pasar Tanah Abang masih lesu, sehingga beberapa pedagang pakaian jadi pun terpaksa…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…